spiritual kita seperti laut, kadang pasang kadang surut, jiwa kita seperti langit, kadang cerah kadang mendung, pengetahuan kita seperti kaca, kadang jernih kadang buram---------Aku mengamati semua sahabat, dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah.Saya memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Aku merenungkan tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasihat baik. Aku mencari segala bentuk rezki, tapi tidak menemukan rezki yang lebih baik daripada sabar. ~ Sayidina Umar bin Khattab

Thursday, 15 January 2015

Menjadi orang tua

����MUKADIMAH of Islamic Parenting����

��"Anak adalah amanah bagi kedua orang tuanya. Hatinya yang masih suci bagaikan permata yang murni. Bebas dari segala macam ukiran dan lukisan. Ia siap menerima setiap bentuk pahatan dan cenderung kepada apa saja yang ditanamkan kepadanya. Bila ia dibiasakan untuk melakukan kebaikan, ia pasti akan tumbuh menjadi orang yang baik. Kedua orang tua akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat, termasuk guru dan pembimbingnya. Namun, bila ia dibiarkan melakukan hal-hal yang buruk dan ditelantarkan tanpa pendidikan dan pengajaran, ia pasti akan menjadi orang yang celaka dan binasa. Dengan begitu, orang yang bertanggung jawab atasnya dan juga walinya akan menanggung dosanya.

��Mendidik dan mengajar anak bukan perkara yang mudah dan bukan pekerjaan yang bisa dilakukan sambil lalu. Mendidik dan mengajar anak merupakan kebutuhan pokok dan kewajiban yang harus dipenuhi oleh semua orang tua.

��Allah berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu..." (Ath-Tahrim: 6)

��Cara orang tua menjaga anaknya adalah dengan mendidik dan mengajarkan akhlak yang baik serta menjaganya dari teman-teman yang buruk. Saat orang tua melihat tanda-tanda bahwa anaknya telah mampu membedakan antara yang baik dan yang buruk, ia harus meningkatkan pengawasan terhadapnya. Hal ini diawali dengan munculnya rasa malu pada anak. Bila anak mulai memilki rasa segan dan malu, serta tidak mau melakukan beberapa hal tertentu, itu semua karena ia mulai bisa berpikir dengan baik sehingga mengetahui perkara yang tidak baik. Ia mulai malu untuk melakukan hal-hal yang tidak baik tersebut.

��Sikap itu merupakan petunjuk dari Allah yang diberikan kepadanya dan menunjukkan akhlak dan kejernihan hati. Ini merupakan pertanda yang menggembirakan karena akalnya menjadi sempurna saat balig.

��Source:
Islamic Parenting - Pendidikan Anak Metode Nabi (Syaikh Jamal Abdurrahman, 2010), page xiv-xv, xvii

Tuesday, 6 January 2015

Belajar

Ikhlas Itu Mudah atau Sulit?
28 September pukul 18:59 ·
Oleh: Mohammad Fauzil Adhim
 
 
Inilah Sufyan bin Sa'id Ats-Tsauri, seorang ulama hadis yang sangat berpengaruh. Keutamaannya dalam ilmu hadis membuat Yahya bin Ma'in dan beberapa ulama lainnya memberi julukan "Amirul Mukminin fil Hadits". Hanya dua orang yang pernah mendapat julukan tersebut, satu lagi adalah Malik bin Anas, meskipun keduanya bukanlah orang yang menyukai gelaran-gelaran hebat yang disematkan kepadanya. Ini merupakan gelaran yang dikatakan orang atas dirinya, bukan dianugerahkan kepadanya lalu diterima dengan hati bangga.
 
Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah Ta'ala pernah mengingatkan kita, ”Tidaklah aku obati sesuatu yang lebih berat daripada mengobati niatku, sebab ia senantiasa berbolak-balik pada diriku.”
 
Apa maknanya? Tidak ada yang lebih berat dalam beramal melebihi urusan menata niat. Sesungguhnya sebaik-baik niat adalah yang ikhlas, yakni memaksudkan amal dan ibadah semata-mata hanya untuk meraih ridha Allah subhanahu wa ta'ala. Satu hal yang perlu kita garis bawahi di sini adalah, ikhlas itu berkait dengan sesuatu yang kita lakukan, kita perbuat, bukan sesuatu yang menimpa kepada kita. Adapun perbuatan atau tindakan tersebut kita kerjakan hanya untuk meraih ridha Allah 'Azza wa Jalla. Maka jika ada hal tak menyenangkan yang menimpa kita, urusannya bukanlah soal ikhlas. Bukan. Sama sekali tak berkait dengan keikhlasan.
 
Nasehat Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah ini mengingatkan kita pada perkataan seorang ulama besar yang masyhur, yakni Yahya bin Katsir. Beliau berkata, ”Belajarlah niat karena niat lebih penting daripada amal.”
 
Mengapa niat lebih penting daripada amal? Sebabnya, niatlah yang menentukan nilai amal. Niat yang baik menjadikan amalan yang tampak kecil dan ringan bernilai sangat berat dan mulia di sisi Allah subhanahu wa ta'ala. Niat buruk tak menjadikan seseorang memperoleh dosa karena belum dicatat sebagai keburukan, sementara niat baik sudah mendapat pahala dan bertambahlah apabila niat baik tersebut diwujudkan dalam perbuatan. Tetapi niat yang sungguh-sungguh ingin kita wujudkan atau disebut shiddiqun niyah (niat yang jujur) akan mengantarkan kepada dosa jika itu keburukan, meski tak sampai melakukan, atau pada pahala. Keduanya --dosa maupun pahala-- sebesar orang yang melakukannnya. Na'udzubillahi min dzaalik.
 
Berkenaan dengan kedudukan ikhlas, mari kita perhatikan nasehat Yusuf bin Al Husain Ar-Razi rahimahullah, ”Sesuatu yang paling sulit di dunia ini adalah ikhlas. Betapa sering aku berusaha mengenyahkan riya’ dari dalam hatiku, namun sepertinya ia kembali muncul dengan warna yang lain.”
 
Perkataan Yusuf Ar-Razi rahimahullah ini sekali menunjukkan betapa sulitnya meraih ikhlas dan menjaganya agar tetap bersih. Maka, mendidik niat dan berusaha membenahinya merupakan hal yang sangat penting. Begitu kita meremehkan, maka kita akan tergelincir kepada buruknya niat; merasa tak bermasalah, padahal amat perlu ditangisi. Bukankah yang menyebabkan seorang mujahid yang mati saat berjihad justru terjerumus ke dalam api neraka adalah bersebab salah niat? Bukankah yang menyebabkan ahli sedekah masuk neraka juga karena rusaknya niat?
 
Terkait hal ini, silakan baca kembali tulisan terdahulu bertajuk Salah Sedekah Masuk Neraka. https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=298075006908301&id=183316298384173
 
Maka, alangkah mengherankan ketika ada sebagian penceramah yang memudah-mudahkan soal ikhlas. Seseorang di antaranya berkata, "Ikhlas itu sulit atau mudah?"
 
Para mustami'in (audiens) hening sejenak. Kemudian ustadz tersebut berkata, "Mudah atau sulit, tergantung persepsi kita."
 
Dheggg... Mendengarkan perkataan yang menempatkan persepsi sebagai penentu paling penting, segera mengingatkan saya pada keyakinan dasar di salah satu cabang New Age Movement (NAM) yang berupa pelatihan. Tetapi saya bersangka-baik kepada Ustadz tersebut. Saya kesampingkan dulu risau saya ini. Kalaulah beliau ini terpengaruhi oleh salah satu keyakinan NAM, semoga itu semata karena ketidaktahuannya. Meski demikian, andai kita menempatkan keyakinan bahwa sebaik-baik perkataan adalah kalamuLLah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam, sepatutnya hal itu tidak terjadi.
 
"Kalau kita menganggap mudah, ikhlas itu jadi mudah. Tapi kalau kita menganggap sulit, kita akan sulit ikhlas," katanya melanjutkan, "Betul tidak?"
 
"Coba saya mau tanya, kalau suatu hari ibu-ibu dihadang perampok di tengah jalan dan mereka mengancam akan membunuh jika tidak mau menyerahkan uang di dompet ibu, kira-kira milih ikhlas atau tidak?" kata Ustadz ini meneruskan penjelasannya.
 
Saya tersentak, meski memilih untuk tetap diam. Ini bukanlah yang pertama orang mengambil contoh tentang ikhlas, tetapi sebenarnya tidak berhubungan dengan masalah keikhlasan sama sekali. Mari kita ingat sejenak bahwa ikhlas itu adalah melakukan sesuatu semata hanya untuk memperoleh ridha Allah Ta'ala. Adapun jika kita ditimpa suatu keadaan atau kejadian, maka urusannya berkait dengan ridha (rela, senang hati, menerima dengan lapang). Kita ridha atau tidak dengan tindakan tersebut.
 
Kasus perampokan yang diilustrasikan tersebut misalnya, bisa saja seseorang memilih tidak melawan, tapi itu bukan karena ridha hartanya dirampok. Ia membiarkan uangnya dirampas semata untuk menghindari kejahatan lebih besar. Dalam hal ini, jangankan ikhlas, ridha pun tidak. Ia tidak merelakan hartanya dirampok, meskipun memilih tidak melawan. Justru salah kalau ia ridha terhadap kejahatan. Ia memang harus (setidaknya belajar untuk) ridha terhadap takdir yang menimpanya, tapi bukan meridhai perampokan.
 
Alhasil, meski yang dibahas oleh ustadz tersebut berkaitan dengan ikhlas, tetapi sebenarnya tidak berkaitan dengan ikhlas sama sekali. Sejauh ini, saya belum pernah mendapatkan contoh pembahasan yang benar-benar relevan dari para pembicara terkini yang memudah-mudahkan ikhlas. Umumnya ketika meyakinkan bahwa ikhlas itu sangat mudah, yang dicontohkan adalah berkait dengan ridha. Itu pun tidak menyentuh substansi ridha. Sebagaimana ilustrasi pilihan sikap saat menghadapi perampokan, bisa saja seseorang memutuskan tidak melawan, tapi sama sekali rela dan senang hati menyerahkan hartanya secara paksa.
 
Semoga catatan ini bermanfaat. Semoga kita dapat senantiasa bercermin kepada para salafush-shalih dan mengambil pelajaran dari perkataan mereka. Sesungguhnya mereka lebih dekat dengan mata air agama ini, yakni Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam yang padanya Al-Qur'an diturunkan dan darinya kita mengambil sunnah.
 
Wallahu a'lam bish-shawab.

Halal haram ?

Tahun 2015 indonesia akan diserbu produk makanan LN khususnya dari Tiongkok dan Thai. Berikut info ttg halal haram ..... ��INFO HALAL HARAM��

Mungkin banyak yg tidak / belum tahu bahwa label bertulis "This product contain  substance from porcine". Sebenarnya maksudnya adlh "Produk ini mengandung bahan dari babi".

Selain itu, diantaranya label yang kerap digunakan adalah "The source of gelatin capsule is porcine" yang artinya "Kapsul dari gelatin babi".

Berikut adalah istilah sains yang digunakan dalam produk yang mengandung/menggunakan unsur babi:

1. PORK : Istilah yang digunakan untuk daging babi di dalam masakan.

2. SWINE : Istilah yang digunakan untuk keseluruhan kumpulan spesies babi.

3. HOG : Istilah untuk babi dewasa, berat melebihi 50 kg.

4. BOAR : Babi liar / celeng / babi hutan.

5. LARD : Lemak babi yang digunakan untuk membuat minyak masak dan sabun.

6. BACON : Daging hewan yang disalai, termasuk / terutama babi.

7. HAM : Daging pada bagian paha babi.

8. SOW : Istilah untuk babi betina dewasa (jarang digunakan).

9. SOW MILK : susu babi.

10. PIG : Istilah umum untuk seekor babi atau sebenarnya babi muda, berat kurang daripada 50 kg.

11. PORCINE : Istilah yang digunakan untuk sesuatu yang berkaitan atau berasal dari babi.

Porcine sering digunakan di dalam bidang pengobatan / medis untuk menyatakan sumber yang berasal dari babi.

Semoga bermanfaat,
Firly Ramly Group
HPAI
Produk Halal Tanggung Jawab Bersama

������������������

Mohon dishare kembali ke keluarga, dan umat Islam...

Siapkan bekal akheratmu

������������������
QZ8501 : Menata Hati, Menyiapkan Bekal Ukhrawi

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

Bencana silih berganti melanda negeri. Belum lama kita mendengar berita bencana erupsi Merapi, gunung Sinabung, gunung Gamalama, longsor Banjarnegara, banjir dimana-mana, dan kini kecelakaan pesawat AirAsia QZ8501. Sekian banyak korban jiwa menyertai aneka bencana. Meninggal dunia dengan berbagai macam cara dan keadaannya.

Saya ingin mengajak kita semua mengambil hikmah dan pelajaran dari berbagai peristiwa tersebut. Sangat banyak hikmah yang bisa kita petik, di antaranya;

1.    Manajemen Perasaan Hati

Suatu saat anda sekeluarga ada kesempatan untuk berlibur sekeluarga ke Singapura. Sudah bisa terbayang betapa bahagia perasaan anda sekeluarga, terlebih anak-anak. Kebahagiaan itu mendadak sirna seketika tatkala tiba di bandara anda menjumpai pesawat sudah terbang meninggalkan anda sekeluarga. Anda terlambat melakukan boarding.

Rasa kecewa, sedih, marah bercampur aduk menjadi satu. Rusak sudah suasana bahagia pada hari itu, berganti menjadi situasi emosi dan badmood. Anda mendatangi kantor maskapai dan menumpahkan kemarahan serta kejengkelan atas peristiwa yang anda yakini tidak sepenuhnya kesalahan anda. Bahkan sudah berpikir untuk menulis di kolom surat pembaca pada harian nasional untuk mempersoalkan manajemen maskapai penerbangan yang mengecewakan anda tersebut.

Namun perasaan marah dan jengkel tersebut mendadak hilang seketika, tatkala mendengar berita bahwa pesawat yang meninggalkan anda tersebut mengalami kecelakaan yang menyebabkan penumpang dan awak pesawat dinyatakan hilang dan belum bisa ditemukan lokasi maupun penyebab kecelakaannya.

Ari Putro Cahyono beserta sepuluh anggota keluarganya, adalah salah satu contoh dari peristiwa ketinggalan pesawat tersebut. Ari yang warga Surabaya ini, pada akhirnya mengucap syukur karena gagal terbang bersama pesawat Air Asia QZ 8501 yang mengalami kecelakaan nahas, Ahad 28 Desember 2014 silam.

Ari sekeluarga gagal berangkat ke Singapura karena terlambat boarding. Mereka tiba di Bandara International Juanda, Surabaya, pada pukul 05.30 WIB. Menurut catatan yang tertera di tiket, pesawat AirAsia harusnya berangkat pukul 07.20 WIB. Namun ternyata mereka tidak membaca pesan melalui email dari maskapai bahwa pesawat yang ditumpanginya itu berangkat lebih awal.

Tentu saja Ari dan keluarga merasa bahagia karena tidak jadi terbang bersama  QZ 8501. Namun ia pun mengaku sedih karena adanya kecelakaan tersebut dan juga empati dengan keluarga korban.

Coba perhatikan perasaan manusia yang amat sangat cepat berubah-ubah. Dari bahagia, menjadi sedih, menjadi bahagia lagi, dan sedih lagi, begitu seterusnya. Itulah sebabnya, agama mengajarkan “yang sedang-sedang saja”. Kalau senang tidak berlebihan, kalau sedih tidak berlebihan. Semua harus proporsional, tidak berlebihan.

Manajemen perasaan harus kita perhatikan, agar tidak mudah larut dalam kesedihan sebagaimana tidak mudah larut dalam kebahagiaan.

2.    Ketetapan Waktu

Apakah kita bisa melarikan diri dari kematian? Tidak bisa, jika memang sudah tiba ketetapan waktu kematian kita. Sebaliknya, kita pasti akan terhindar dari kematian, jika memang itu belum tiba ketetapan waktu kematian kita.

Kisah Ari Putro Cahyono beserta sepuluh keluarganya yang selamat dari kecelakaan AirAsia menjadi contoh, bahwa jika memang belum tiba ketetapan waktu dari-Nya, pasti kita akan terhindar dari kematian. Bagaimanapun caranya, apapun alasannya.

Seperti yang dialami oleh Budi Rizal dan Syafruddin, walaupun dengan kondisi dan alasan yang berbeda dengan Ari. Seharusnya Budi Rizal dan Syafruddin ikut dalam penerbangan joy-flight Sukhoi Superjet SSJ-100, pada 9 Mei 2012 lalu. Bahkan keduanya juga sudah berada di dalam pesawat yang sebentar lagi terbang. Namun karena feeling, perasaan yang tidak enak, Syafruddin mengajak Budi Rizal turun. Mereka pun selamat dari kecelakaan pesawat tersebut.

Budi Rizal mengatakan, sesaat sebelum penerbangan, dirinya memang ada di dalam pesawat Sukhoi. Dia bahkan sempat berbincang-bincang dengan pilot dan kopilot yang berkewarganegaraan Rusia. Namun karena Syafruddin mendadak mengajaknya turun, iapun selamat dari kecelakaan.

Allah Ta’ala telah memberikan penjelasan, bahwa kematian itu adalah ketetapan dariNya. Jika telah tiba ketetapan waktu dariNya, tidak ada yang bisa mengajukan, tidak ada yang bisa mengundurkan.

“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya” (QS. Ali Imran: 145).

“Tidak ada suatu umat pun yang dapat mendahului ajalnya dan tidak pula dapatmemundurkannya” (QS. Al Hijr: 5; Al Mu’minun: 43).

3.    Bukan Soal Naik Pesawat Terbang

Setiap ada kecelakaan pesawat terbang, masyarakat banyak yang takut naik pesawat. Namun setelah berlalu masa yang panjang tanpa ada kejadian kecelakaan, masyarakatpun merasa aman naik pesawat. Padahal kematian bukanlah persoalan naik pesawat. Mati adalah soal ketetapan waktu yang pasti. Dalam keadaan apapun  kita menjumpainya.

Ketika takut naik pesawat karena khawatir jatuh, takut naik kapal karena khawatir tenggelam, takut naik kereta api karena khawatir tergelincir dari rel, takut naik bus karena khawatir tabrakan, takut naik motor karena khawatir diserempet, akhirnya orang memilih jalan kaki. Ternyata ia tertabrak truk saat berjalan kaki di trotoar. Mati juga.

"Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkanmu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh"  (QS. An Nisa : 78).

"Katakanlah, sesungguhnya kematian yang kamu lari darinya, sungguh akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan" (QS. Al Jumu’ah : 8).

Yang kita perlukan adalah bekal yang memadai untuk perjalanan menuju ukhrawi. Perjalanan hakiki untuk menemui Ilahi Rabbi. Mati itu urusan Allah Yang Maha Mengerti, kita harus siap kapanpun ketetapan waktu itu diberikan untuk kita jalani.
��������������������
 

Sunday, 21 December 2014

Bikin senyum

Muhadatsan atawa Konferzesyen
Yahya C. Staquf

Di masa mudanya, Kyai Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh adalah guru yang tekun di Madrasah Mathali'ul Falah, Kajen, Pati. Beliau memegang mata pelajaran Bahasa Arab. Meskipun telah memiliki reputasi intelektual yang langka tanding –terutama sebagai seorang adiib (ahli sastra Arab), beliau tak segan mengajar "anak-anak kecil" layaknya guru kelas rendahan. Jam pelajaran yang sudah terjadwal tak pernah beliau tinggalkan.

Maka menjadi kejutan yang tak masuk akal ketika tiba-tiba beliau keluar kelas ditengah jam pelajaran yang belum usai, lalu mangkir mengajar berbulan-bulan. Apa pasal?

Kyai Sahal menugasi murid-murid kelas tiga untuk melakukan praktek muhadatsah (percakapan). Beliau pasangkan murid-murid itu dua orang dua orang, lalu beliau perintahkan mengarang skenario percakapan dalam Bahasa Arab secara bebas. Pada jam pelajaran yang sama minggu berikutnya, mereka harus sudah siap.

Terbukti pengajaran Kyai Sahal tidak sia-sia. Pada saat yang ditentukan, sepasang demi sepasang murid-murid itu melaksanakan tugas dengan baik sekali. Ada yang memerankan dokter dan pasien, ada peran guru-murid, pedagang dan pembeli, orang tua menasehati anak, pengemis dan orang pelit, polisi menangkap maling, dan lain sebagainya. Semua diperankan dengan percakapan Arab yang nyaris sempurna.

Tibalah giliran Gus Mu'adz, sepupu Kyai Sahal sendiri, yang kebetulan dipasangkan dengan anaknya modin desa sebelah. Sebenarnya, sejak Gus Mu'adz mulai melangkah kedepan kelas, Kyai Sahal sudah "pasang kuda-kuda". Beliau tahu, sepupunya itu mbeling. Beliau sadar harus punya persiapan mental yang ekstra.

Dua orang murid sudah berdiri berhadap-hadapan. Raut muka mereka tampak begitu seriusnya.

"Ayo mulai!" perintah Kyai Sahal.

Keduanya mengangguk, lalu saling memberi kode.

Gus Mu'adz       : Man robbuka?

Anaknya Modin : Allaahu robbii.

Gus Mu'azd       : Man Nabiyyuka?

Anaknya Modin : Muhammadun Shollallaahu 'Alaihi Wasallama nabiyyii.

(Murid-murid mulai cekikian. Kyai Sahal menunduk, membolak-balik buku pegangan yang ada diatas meja).

Gus Mu'adz       : Maa diinuka?

Anaknya Modin : Al Islaamu diinii.

Gus Mu'adz        : Maa qiblatuka?

Kyai Sahal tiba-tiba beranjak dari kursi, lalu melangkah cepat keluar kelas tanpa sepatah kata!

Murid-murid ribut. Dimulai dengan pecahnya tawa tak terkendali, lalu segera berubah tudingan mempersalahkan Gus Mu'adz dan pasangannya yang tampaknya telah membuat Kyai Sahal marah sekali.

"Aku 'kan cuma melaksanakan tugas", Gus Mu'adz membela diri, "katanya percakapan bebas… Itu tadi aku pilih jadi Munkar-Nakir, lha anak ini jadi mayitnya… bapaknya kan sudah biasa nalqin…"

Syukur apa adanya

"APA" yg kita Cari di dlm Hidup???  
Bila kita hidup di gunung merindukan​ pantai, Saat kita hidup di pantai merindukan​ gunung.
 
Kalau kemarau kita tanya kapan hujan? Di musim hujan kita tanya kapan kemarau?  

Diam di rumah pengennya pergi .... Setelah pergi pengennya pulang ke rumah.... 

Waktu tenang cari keramaian... Waktu ramai cari ketenangan​.

Sudah berkeluarga, mengeluh belum punya anak ..... Setelah punya anak mengeluh biaya  hidup dan pendidikan. 

Ternyata SESUATU tampak indah saat belum kita miliki ..... Kapankah kebahagiaa​n akan didapatkan​ kalau kita hanya selalu memikirkan​ apa yg belum ada, tp mengabaikan​ apa yg sudah kita miliki.....??? 

Jadilah Pribadi yg SELALU BERSYUKUR... dgn apa-apa yg sudah kita miliki.... Mungkinkah  selembar daun yg kecil dapat menutupi bumi yg luas ini ? Menutupi telapak tangan saja sulit. 

Tapi kalau daun kecil ini menempel di mata kita, maka tertutupla​h “BUMI" Begitu juga bila hati ditutupi pikiran buruk sekecil apapun, maka kita akan melihat keburukan di-mana2. Bumi inipun akan tampak buruk..... Jangan menutup mata kita, walaupun hanya dgn daun yg kecil. Jangan menutupi hati kita, dgn sebuah pikiran buruk. Walau cuma seujung kuku. 

SYUKURI apa yg sudah kita miliki, sbg modal utk meMULIAkan-NYA. 

Karena ...hidup adalah: WAKTU yg dipinjamkan   
Harta adalah: ANUGERAH yg dipercayakan.
Bersyukurlah atas nafas yg masih kita miliki.
Bersyukurlah atas keluarga yg kita miliki.
Bersyukurlah atas pekerjaan yg kita miliki...

Karena bersyukur akan menambah kenikmatan. Mengingkari mendatangkan murka-Nya. Dan bersyukur wujud tahu diri makhluk kepada Khaliknya. Karena hidup di dunia hanya setara dengan 1,5 jam.

Tetap Semangat. Tetap Mengucap Syukur. Beri yg terbaik buat sesama! 

Selamat beraktivitas hari ini...

Saturday, 6 September 2014

Kisah sahabat Nabi yang Buta

YA, RASULULLAH! SEANDAINYA SAYA TIDAK BUTA, TENTU SAYA PERGI BERPERANG

Abdullah bin Umar bin Syuraikh, seorang sahabat asal Quraisy ini termasuk peserta hijrah ke Madinah rombongan pertama. Beliau sampai di Madinah sebelum kedatangan Rasulullah Shalalahu 'alaihi Wassalam. Beliau meninggal dalam peperangan Qadisiah membawahi sebuah brigade.

Abdullah bin Ummi Maktum, orang mekah suku Quraisy. Dia mempunyai ikatan keluarga dengan Rasululah Shalalahu 'alaihi Wassalam. Yaitu anak paman Ummul Mu'minin Khadijah binti Khuwailid Ridhwanullah 'Alaiha. Bapaknya Qais bin Zaid, dan ibunya 'Atikah binti 'Abdullah. Ibunya bergelar "Umi Maktum" karena anaknya 'Abdullah lahir dalam keadaan buta total.

Abdullah bin Ummi Maktum menyaksikan ketika cahaya Islam mulai memancar di Makkah. Allah melapangkan dadanya menerima agama baru itu. Karena itu tidak diragukan lagi dia termasuk kelompok yang pertama-tama masuk Islam. Sebagai muslim kelompok pertama, 'Abdullah turut menanggung segala macam suka duka kaum muslimin di Makkah ketika itu. Dia turut menderita siksaan kaum Quraisy seperti diderita kawan-kawannya seagama, berupa penganiayaan dan berbagai macam tindakan kekerasan lainnya. Tetapi apakah karena tindakan-tindakan kekerasan itu Ibnu ummi Maktum menyerah? Tidak....! Dia tidak pernah mundur dan tidak lemah iman. Bahkan dia semakin teguh berpegang pada ajaran Islam dan Kitabullah. Dia semakin rajin mempelajari syariat Islam dan sering mendatangi majelis Rasulullah.

Begitu rajin dia mendatangi majelis Rasulullah, menyimak dan menghafal Al-Qur'an, sehingga setiap waktu senggang selalu disinya, dan setiap kesempatan yang baik selalu disebutnya. Bahkan dia sangat rewel. Karena rewelnya, dia beruntung memperoleh apa yang diinginkannya dari Rasulullah, di samping keuntungan bagi yang lain-lain juga.

Pada masa permulaan tersebut, Rasulullah sering mengadakan dialog dengan pemimpin-pemimpin Quraisy, mengharapkan semoga mereka masuk Islam. Pada suatu hari beliau bertatap muka dengan 'Utbah bin Rabi'ah, Syaibah bin Rabi'ah, 'Amr bin Hisyam alias Abu Jahl, Umayyah bin Khalaf dan walid bin Mughirah, ayah saifullah Khalid bin walid.

Rasulullah berunding dan bertukar pikiran dengan mereka tentang Islam. Beliau sangat ingin mereka menerima dakwah dan menghentikan penganiayaan terhadap para sahabat beliau.

Sementara beliau berunding dengan sungguh-sungguh, tiba-tiba 'Abdullah bin Ummi maktum datang mengganggu minta dibacakan kepadanya ayat-ayat Al-Qur'an.

Kata 'Abdullah, "Ya, Rasulullah! Ajarkanlah kepadaku ayat-ayat yang telah diajarkan Allah kepada Anda!"

Rasul yang mulia terlengah memperdulikan permintaan 'Abdullah. Bahkan beliau agak acuh kepada interupsinya itu. Lalu beliau membelakangi 'Abdullah dan melanjutkan pembicaraan dengan pemimpin Quraisy tersebut. Mudah-mudahan dengan Islamnya mereka, Islam tambah kuat dan dakwah bertambah lancar.

Selesai berbicara dengan mereka, Rasulullah bermaksud hendak pulang. Tetapi tiba tiba penglihatan beliau gelap dan kepala beliau terasa sakit seperti kena pukul. Kemudian Allah mewahyukan firman-Nya kepada beliau: "Dia ( Muhammad ) bermuka masam dan berpaling, karena seorang buta datang kepadanya, Tahukah kamu, barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau mereka tidak membersihkan diri (beriman). Adapun orang yang datang kepadamu dengan bergegas (untuk mendapatkan pengajaran), sedangkan ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan (begitu)! Sesungguhnya ajaran Allah itu suatu peringatan. Maka siapa yanag menghendaki tentulah ia memperhatikannya. (Ajaran ajaran itu) terdapat di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para utusan yang mulia lagi (senantiasa) berbakti." (QS. 'Abasa : 1 - 16).

Enam belas ayat itulah yang disampaikan Jibril Al-Amin ke dalam hati Rasulullah sehubungan dengan peristiwa 'Abdullah bin Ummi maktum, yang senantiasa dibaca sejak diturunkan sampai sekarang, dan akan terus dibaca sampai hari kiamat.

Sejak hari itu Rasulullah tidak lupa memberikan tempat yang mulia bagi 'Abdullah apabila dia datang. Beliau menyilahkan duduk ditempat duduk beliau. Beliau tanyakan keadaannya dan beliau penuhi kebutuhannya. Tidaklah heran kalau beliau memuliakan 'Abdullah demikian rupa; bukankah teguran dari langit itu sangat keras!

Tatkala tekanan dan penganiayaan kaum Quraisy terhadap kaum muslimin semakin berat dan menjadi-jadi, Allah Ta'ala mengizinkan kaum muslimin dan Rasul-Nya hijrah. 'Abdullah bin Ummi maktum bergegas meninggalkan tumpah-darahnya untuk menyelamatkan agamanya. Dia bersama sama Mush'ab bin Umar sahabat-sahabat Rasul yang pertama-tama tiba di Madinah, setibanya di Yatsrib (Madinah), 'Abdullah dan Mush'ab segera berdakwah, membacakan ayat-ayat Al-Qur'an dan mengajarkan pengajaran Isalam.

Setelah Rasulullah tiba di Madinah, beliau mengangkat 'Abdullah bin Ummi Maktum serta Bilal bin rabah menjadi Muadzin Rasulullah. Mereka berdua bertugas meneriakkan kalimah tauhid lima kali sehari semalam, mengajak orang banyak beramal saleh dan mendorong masyarakat merebut kemenangan. Apabila Bilal adzan, maka 'Abdullah qamat. Dan bila 'Abdullah adzan, maka Bilal qamat.

Dalam bulan Ramadhan tugas mereka bertambah. Bilal adzan tengah malam membangunkan kaum muslimin untuk sahur, dan 'Abdullah adzan ketika fajar menyingsing, memberi tahu kaum muslimin waktu imsak sudah masuk, agar menghentikan makam minum dan segala yang membatalkan puasa.

Untuk memuliakan 'Abdullah bin Ummi maktum, beberapa kali Rasulullah mengangkatnya menjadi Wali Kota Madinah menggantikan beliau, apabila meninggalkan kota. Tujuh belas kali jabatan tersebut dipercayakan beliau kepada 'Abdullah. Salah satu diantaranya, ketika meninggalkan kota Madinah untuk membebaskan kota Makkah dari kekuasaan kaum musyrikin Quraisy.

Setelah perang Badar, Allah menurunkan ayat-ayat Al-Qur'an, mengangkat derajat kaum muslimin yang pergi berperang fi sabilillah. Allah melebihkan derajat mereka yang pergi berperang atas orang-orang yang tidak pergi berperang, dan mencela orang yang tidak pergi karena ingin bersantai-santai. Ayat-ayat tersebut sangat berkesan di hati 'Abdullah bin Ummi Maktum. Tetapi baginya sukar mendapatkan kemuliaan tersebut karena dia buta. Lalu dia berkata kepada Rasulullah, "Ya, Rasulullah! Seandainya saya tidak buta, tentu saya pergi berperang."

Kemudian dia bermohon kepada Allah dengan hati penuh tunduk, semoga Allah menurunkan pula ayat-ayat mengenai orang-orang yang keadaannnya cacat (udzur) seperti dia, tetapi hati mereka ingin sekali hendak turut berperang. Dia senantiasa berdoa dengan segala kerendahan hati. Katanya, "Wahai Allah! Turunkanlah wahyu mengenai orang-orang yang udzur sepertiku!" Tidak berapa lama kemudian Allah memperkenankan doanya.

Zaid bin Tsabit, sekretaris Rasulullah yang bertugas menuliskan wahyu menceritakan, "aku duduk di samping Rasulullah. Tiba tiba beliau diam, sedangkan paha beliau terletak di atas pahaku. Aku belum pernah merasakan beban yang paling berat melebihi berat paha Rasulullah ketika itu. Sesudah beban berat yang menekan pahaku hilang, beliau bersabda, "Tulislah, hai Zaid!"

Lalu aku menuliskan, "Tidak sama orang-orang mukmin yang duduk (tidak turut berperang) dengan pejuang-pejuang yang berjihad fi sabilillah..." (An-Nisaa : 95).

Ibnu Ummi berdiri seraya berkata, "Ya Rasulullah! Bagaimana dengan orang-orang yang tidak sanggup pergi berjihad (berperang karena cacat)?"

Selesai pertanyaan 'Abdullah, Rasulullah berdiam dan paha beliau menekan pahaku, seolah-olah aku menanggung beban berat seperti tadi. Setelah beban berat itu hilang, Rasulullah berkata, "Coba baca kembali yang telah engkau tulis!"

Aku membaca , "Tidak sama orang-orang mukmin yang duduk (tidak turut berperang)." lalu kata beliau. Tulis! "Kecuali bagi orang-orang yang tidak mampu." Maka turunlah pengecualian yang diharap-harapkan Ibnu Ummi Maktum.

Meskipun Allah telah memaafkan Ibnu Ummi Maktum dan orang-orang udzur seperti dia untuk tidak berjihad, namun dia enggan bersantai-santai beserta orang-orang yang tidak turut berperang. Dia tetap membulatkan tekat untuk turut berperang fi sabilillah. Tekad itu timbul dalam dirinya, karena jiwa yang besar tidak dapat dikatakan besar, kecuali bila orang itu memikul pula pekerjaan besar. Maka karena itu dia sangat gandrung untuk turut berperang dan menetapkan sendiri tugasnya di medan perang.

Katanya, "Tempatkan saya antara dua barisan sebagai pembawa bendera. Saya akan memeganya erat-erat untuk kalian. Saya buta, karena itu saya pasti tidak akan lari." Tahun keempat belas Hijriyah, Khalifah 'Umar bin Khaththab memutuskan akan memasuki Persia dengan perang yang menentukan, untuk menggulingkan pemerintahan yang zalim, dan menggantinya dengan pemerintahan Islam yang demokratis dan bertauhid. 'Umar memerintahkan kepada segenap Gubernur dan pembesar dalam pemerintahannya, 'Jangan ada seorang jua pun yang ketinggalan dari orang orang bersenjata, orang yang mempunyai kuda, atau yang berani, atau yang berpikiran tajam, melainkan hadapkan semuanya kepada saya sesegera mungkin!"

Maka berkumpulah di Madinah kaum Muslimin dari segala penjuru, memenuhi panggilan Khalifah 'Umar. Di antara mereka itu terdapat seorang prajurit buta, 'Abdullah bin Ummi maktum. Khalifah 'Umar mengangkat Sa'ad bin Abi Waqash menjadi panglima pasukan yang besar itu. Kemudian Khalifah memberikan intruksi-intruksi dan pengarahan kepada Sa'ad.

Setelah pasukan besar itu sampai di Qadisiyah. 'Abdullah bin Ummi maktum memakai baju besi dan perlengkapan yang sempurna. Dia tampil sebagai pembawa bendera kaum muslimin dan berjanji akan senantiasa mengibarkannya atau mati di samping bendera itu.

Pada hari ke tiga perang Qadisiyah, perang berkecamuk dengan hebat, yang belum pernah disaksikan sebelumnya. Kaum muslimin berhasil memenangkan perang tersebut dengan kemenangan paling besar yang belum pernah direbutnya. Maka pindahlah kekuasaan kerajaan Persia yang besar ke tangan kaum muslimin. Dan runtuhlah mahligai yang termegah, dan berkibarlah bendera tauhid di bumi penyembah berhala itu.

Kemenangan yang meyakinkan itu dibayar dengan darah dan jiwa ratusan syuhada. Diantara mereka yang syahid itu terdapat 'Abdullah bin Ummi Maktum yang buta. Dia ditemukan terkapar di medan tempur berlumuran darah syahidnya, sambil memeluk bendera kaum muslimin.

©2012 Kisah-Kisah Sahabat Nabi