spiritual kita seperti laut, kadang pasang kadang surut, jiwa kita seperti langit, kadang cerah kadang mendung, pengetahuan kita seperti kaca, kadang jernih kadang buram---------Aku mengamati semua sahabat, dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah.Saya memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Aku merenungkan tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasihat baik. Aku mencari segala bentuk rezki, tapi tidak menemukan rezki yang lebih baik daripada sabar. ~ Sayidina Umar bin Khattab

Sunday, 18 October 2015

DALAM 7 HARI YANG TELAH LALU DAN MUNGKIN AKAN TERULANG

Hari per-1, tahajudku tetinggal Dan aku begitu sibuk akan duniaku Hingga zuhurku, kuselesaikan saat ashar mulai memanggil Dan sorenya kulewati saja masjid yang mengumandangkan azan magrib Dengan niat kulakukan bersama isya itupun terlaksana setelah acara tv selesai Hari ke-2, tahajudku tertinggal lagi Dan hal yang sama aku lakukan sebagaimana hari pertama Hari ke-3 aku lalai lagi akan tahujudku Temanku memberi hadiah novel best seller yang lebih dr 200 hlmn Dalam waktu tidak 1 hari aku telah selesai membacanya Tapi... enggan sekali aku membaca Al-qur'an walau cuma 1 juzz Al-qur'an yg 114 surat, hanya 1,2 surat yang kuhapal itupun dengan terbata-bata Tapi... ketika temanku bertanya ttg novel tadi betapa mudah dan lancarnya aku menceritakan Hari ke-4 kembali aku lalai lagi akan tahajudku Sorenya aku datang ke Selatan Jakarta dengan niat mengaji Tapi kubiarkan ustazdku yang sedang mengajarkan kebaikan Kubiarkan ustadzku yang sedang mengajarkan lebih luas tentang agamaku Aku lebih suka mencari bahan obrolan dengan teman yg ada disamping kiri & kananku Padahal bada magrib tadi betapa sulitnya aku merangkai Kata-kata untuk kupanjatkan saat berdoa Hari ke-5 kembali aku lupa akan tahajudku Kupilih shaf paling belakang dan aku mengeluh saat imam sholat jum'at kelamaan bacaannya Padahal betapa dekat jaraknya aku dengan televisi dan betapa nikmat, serunya saat perpanjangan waktu sepak bola favoritku tadi malam Hari ke-6 aku semakin lupa akan tahajudku Kuhabiskan waktu di mall & bioskop bersama teman2ku Demi memuaskan nafsu mata & perutku sampai puluhan ribu tak terasa keluar Aku lupa.. waktu diperempatan lampu merah tadi Saat wanita tua mengetuk kaca mobilku Hanya uang dua ratus rupiah kuberikan itupun tanpa menoleh Hari ke-7 bukan hanya tahajudku tapi shubuhkupun tertinggal Aku bermalas2an ditempat tidurku menghabiskan waktu Selang beberapa saat dihari ke-7 itu juga Aku tersentak kaget mendengar khabar temanku kini Telah terbungkus kain kafan padahal baru tadi malam aku bersamanya & ¾ malam tadi dia dengan misscallnya mengingat aku ttg tahajud kematian kenapa aku baru gemetar mendengarnya? Padahal dari dulu sayap2nya selalu mengelilingiku dan Dia bisa hinggap kapanpun dia mau ¼ abad lebih aku lalai.... Dari hari ke hari, bulan dan tahun Yang wajib jarang aku lakukan apalagi yang sunah Kurang mensyukuri walaupun KAU tak pernah meminta Berkata kuno akan nasehat ke-2 orang tuaku Padahal keringat & airmatanya telah terlanjur menetes demi aku Tuhan andai ini merupakan satu titik hidayah Walaupun imanku belum seujung kuku hitam Aku hanya ingin detik ini hingga nafasku yang saat nanti tersisa Tahajud dan sholatku meninggalkan bekas Saat aku melipat sajadahku..... Amin....

4 PERKARA SEBELUM TIDUR ( Tafsir Haqqi )

Rasulullah berpesan kepada Aisyah ra : “Ya Aisyah jangan engkau tidur sebelum melakukan empat perkara, yaitu : 1. Sebelum khatam Al Qur’an, 2. Sebelum membuat para nabi memberimu syafaat di hari akhir, 3. Sebelum para muslim meridloi kamu, 4. Sebelum kaulaksanakan haji dan umroh.... “Bertanya Aisyah : “Ya Rasulullah.... Bagaimana aku dapat melaksanakan empat perkara seketika?” Rasul tersenyum dan bersabda : “Jika engkau tidur bacalah : Al Ikhlas tiga kali seakan-akan kau mengkhatamkan Al Qur’an. Membacalah sholawat untukKu dan para nabi sebelum aku, maka kami semua akan memberi syafaat di hari kiamat. Beristighfarlah untuk para muslimin maka mereka akan meredloi kamu. Dan,perbanyaklah bertasbih, bertahmid, bertahlil, bertakbir maka seakan-akan kamu telah melaksanakan ibadah haji dan umroh” Sekian untuk ingatan kita bersama. * Kalau rajin..Tolong sebarkan kisah ini kepada saudara Muslim yang lain. Ilmu yang bermanfaat ialah salah satu amal yang berkekalan bagi orang yang mengajarnya meskipun dia sudah mati.

Friday, 27 March 2015

Belajar fiqih 24

�� Halaqoh 24
�� Sunnah-sunnah Wudhū' (bag 4)
�� Oleh Ust. Abu Ziyad Eko Haryanto, MA
-----------------------
بسم اللّه الرحمن الرحيم
اللهم فقهنا في ديننا و علمنا بما ينفعنا يا رب العلمين

Ikhwan dan akhwat para peserta kajian fiqh Asy-SyāFi'i yang dimuliakan Allāh dan semoga selala diberkahi waktu dan usaha antum sekalian dalam menuntut ilmu.

Ikhwan dan akhwat yang dimuliakan Allāh, kita in syā Allāh pada sesi ini (sesi ke-24) yaitu sesi terakhir dari pembahasan sunnah-sunnah wudhū'.

Kita sudah sebutkan pada halaqoh sebelumnya tentang sunnahnya mendahulukan yang kanan dari yang kiri dari anggota tubuh yang berpasangan, seperti kedua tangan dan kedua kaki.

Dalilnya sudah kita sebutkan, hadits dari Ibnu 'Abbas semoga Allāh meridhai keduanya, bahwasanya Ibnu 'Abbas berwudhū' dengan mencontohkan wudhū' Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam. Dalam wudhū' yang dilakukan oleh Ibnu 'Abbas disebutkan Ibnu 'Abbas mengambil 1 cidukan tangan air (dengan tangan kiri) kemudian dibasuhkan ke tangan kanannya.

Jadi dari bejana diambil dengan 1 ciduk tangan kiri kemudian dibasuhkan ke tangan kanan.

Kemudian mengambil lagi 1 ciduk tangan kanan untuk membasuh tangan kiri.

Setelah itu mengusap kepalanya dan mengambil 1 ciduk tangan untuk disiramkan ke kaki kanan dahulu dan dibasuhnya. Kemudian mengambil lagi dengan tangannya untuk disiramkan ke kaki sebelah kiri lalu membasuhnya.
Ini semuanya adalah berurutan.

Pada basuhan tangan, Ibnu 'Abbas mengambil untuk kanan dahulu, digosok lalu dibasuh, setelah kanan selesai lalu mengambil untuk yang kiri. Untuk kaki juga demikian, yang pertama dibasuh adalah kaki kanan dahulu kemudian kaki sebelah kiri.

Kemudian ketika telah selesai, Ibnu 'Abbas menyebutkan: "Beginilah aku melihat Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam berwudhū'."

Zhahirnya Ibnu 'Abbas sedang mengajarkan cara berwudhū' kepada tabi'in atau shahabat yang lain dan menceritakan bagaimana Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mencontohkan wudhū' Beliau didepan Ibnu 'Abbas radhiyallāhu 'anhumā.

Dan hadits ini menjadi dalil bahwasanya anggot tubuh yang berpasangan itu dibasuh yang bagian kanan terlebih dahulu daripada kiri. Kecuali untuk daun telinga yaitu diusap bersamaan.

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahihnya no. 140.

Kemudian sunnah yang berikutnya adalah;

10). Mengulangi wudhū' sebanyak 3x (walaupun kita membasuhnya 1x sajs cukup), kecuali kepala dan telinga.

Dalil:
Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahinya no. 230

أَنَّ عُثْمَانَ تَوَضَّأَ بِالْمَقَاعِدِ فَقَالَ: «أَلَا أُرِيكُمْ وُضُوءَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ ثُمَّ تَوَضَّأَ ثَلَاثًا ثَلَاثًا»

Maukah kamu aku perlihatkan tentang bagaimana cara wudhū' Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam? Lalu 'Utsman bin Affan melakukan wudhū' dengan tiga kali-tiga kaki.

Namun kalau sendainya ada orang yang hanya berwudhū' 1 kali memang sudah cukup, 2 kali juga sudah bagus tetapi kalau ingin sempurna dan ingin mendapatkan pahala sunnah malakukan wudhū' itu 3 kali basuhan. Tentunya dalam kondisi air itu banyak, kalau airnya sedikit maka wajib yang 1 kali saja.

⑪ Al-muwālat, terus menerus/berkesinambungan/tidak terputus dalam berwudhū'.

Jadi misal orang kumur-kumur kemudian membasuh muka, istinsyaq, istintsar kemudian membasuh muka, kemudian berhenti dan ngobrol dengan orang atau melakukan pekerjaan ringan dan kemudian melanjutkan wudhū' lagi maka ini tidak benar dan tidak sah karena tidak adanya muwalāt dan wudhū' nya tidak sempurna.

Dikatakan para ulama bahwa jika sifat muwalāt ini hilang dari wudhū' sampai anggota wudhū' yang sebelumnya kering maka wudhū' nya batal dan harus diulang. Namun jika hanya jeda sedikit, misal sedang wudhū' lalu tiba-tiba airnya berhenti mengalir dan pergi ke mesin air yang agak jauh (agar air bisa mengalir lagi) maka ini tidak membatalkan wudhū' dan menghilangkan makna muwālāt karen tidak sengaja.

Yang menghilangkan makna muwālāt adalah sengaja mengobrol atau mengerjakan pekerjaan lain diluar wudhū' dan dengan jarak waktu yang cukup lama maka ini yang dilarang.

Muwālāt itu bisa ditandai dengan anggota tubuh yang sebelumnya masih basah ketika akan membasuh anggota tubuh berikutnya, misal ketika membasuh tangan apabila muka kita masih basah, membasuh kepala saat tangan masih basah.

Ini semua adalah hukumnya sunnah karena apabila dilihat, maka yang wajib/fardhu hanya 4 anggota tubuh yaitu:
⑴ muka
⑵ telapak tangan sampai siku
⑶ kepala atau sebagian kepala
⑷ kaki

Selain yang 4 itu adalah sunnah yang apabila melakukannya mendapat pahala sempurna in syā Allāh, tetapi kalau tidak melakukannya karena suatu alasan maka wudhū' nya sah dan boleh shalat.

Demikianlah pembahasan terakhir dari sunnah-sunnah wudhū', mudah-mudahan kita bisa mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari.

بِاللَّهِ التَّوْفِيْقِ وَ الْهِدَايَةِ.
وَصَلَّى اللّهُ عَلَى حَبِيْبِنَا المُصْطَفَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ سَلَّمَ
___________________
�� Transkriptor : Ummu 'Abdirrahman
♻ Editor : Farid Abu Abdillah
�� Murojaah : Ust. Abu Ziyad Eko Haryanto M.A.

Wednesday, 25 March 2015

Belajar fiqih 23

�� Halaqoh 23
�� Sunnah-sunnah Wudhū' (bag 3)
�� Oleh Ust. Abu Ziyad Eko Haryanto, MA
-----------------------
بسم اللّه الرحمن الرحيم
أَلْحَمْدُ لِلّهِ وَالصَّلاَةُ وَ السَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّ الرَّحْمَةِ نبينا محمد صلى الله عليه وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَزْوَاجِهِ أَجْمَعِيْنَ.

Ikhwan dan akhwat yang saya hormati, kita masih melanjutkan tentang sunnah-sunnah wudhū'.

Pada halaqoh yang ke-23 ini kita akan meneruskan apa yang sudah kita bahas pada halaqoh sebelumnya yaitu tentang sunnah menyela-nyelai jenggot yang tebal.

Hal ini disunnahkan karena diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab Sunannya dari Anas radhiyallāhu 'anhu

أن النبي صلى الله عليه وسلم إذا توضأ أخذ كفاً من ماء فأدخله تحت حنكه فخلل به لحيته، وقال :هكذا أمرني ربي عز وجل (أخرجه أبو داود (145) من حديث أنس بن مالك رضي الله عنه وسنده صحيح)

Tentang dalil sunnahnya menyela-nyela jenggot yang tebal dengan jari kita ketika berwudhū' adalah hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Mālik radhiyallāhu 'anhu, bahwasanya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam apabila berwudhū' Beliau mengambil 1 genggam air dengan tangannya yang mulia, kemudian memasukkan air pada jari-jari Beliau dibawah dagu Beliau.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam itu jenggotnya sangat lebat, sehingga ketika membasahi jenggot itu diperlukan air yang Beliau ambil dengan telapak tangan Beliau kemudian ditaruh dibawah dagu Beliau. Kemudian air tersebut dimasukkan ke sela-sela jenggot dengan jari-jari Beliau. Kemudian Rasūlullāh bersabda: "Demikianlah aku disuruh oleh Allāh Rabbku 'Azza wa Jalla (dalam berwudhū')."

Hadits ini diriwayatkan Abu Dawud dalam kitab Sunannya nomor 145.

Kemudian sunnah yang berikutnya,

⑧ Menyela-nyela jari kedua tangan dan kedua kaki.

Jadi, jari-jari ketika kita basuh telapak tangan, maka disunnahkan untuk menyela-nyela jari kita yang kanan dan yang kiri disatukan lalu digosok-gosokkan satu sama lain, tentunya dibawah kucuran air atau dimasukkan ke bejana.

Demikian juga sela-sela jari kaki karena sela-sela ini adalah tempat berkumpulnya kotoran. Bagaimana caranya?

Kalau jari tangan dengan tasyji'  yaitu mengumpulkan atau memasukkan jari-jari tangan satu sama lain.

Adapun kalau kaki itu dengan memasukkan jari kelingking kita ke sela-sela jari-jari kaki, dimulai dari kaki yang kanan kemudian setelah itu baru yang kiri.

Dalilnya sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan dishahihkan oleh Tirmidzi dan yang lainnya.

وعن لقيط بن صبرة رضي الله عنه قال : قلت : يا رسول الله أخبرني عن الوضوء . قال : أسبغ الوضوء ، وخلل بين الأصابع ، وبالغ في الاستنشاق إلا أن تكون صائما " رواه أبو داود ، والترمذي والنسائي ، وروى ابن ماجه والدارمي إلى قوله : بين الأصابع .

Diriwayatkan dari Laqith Ibn Shabrah (atau Shabirah) radhiyallāhu 'anhu dia berkata: Aku bertanya kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam: "Ya Rasūlullāh, beritahu aku tentang cara berwudhū'?". Maka Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menjawab: "Sempurnakanlah wudhū' mu (maksudnya sempurnakan rukun-rukunnya, wajibnya dan sunnahnya) (dan kalau ingin sempurna wudhū' nya) dan sela-selai jari tangan kita satu dengan yang lain (supaya kotoran itu jatuh dan hilang dengan air yang mengucur), dan menghirup air ke hidung dengan sempurna (yaitu agak dalam) kecuali kondisi berpuasa."

Kalau seseorang sedang berpuasa maka tidak boleh menghirup air banyak-banyak ke hidung karena dikhawatirkan bisa masuk ke dalam rongga kerongkongan sehingga akhirnya puasanya bisa batal kalau dilakukan dengan sengaja.

Ini dalil sunnahnya menyela-nyelai jari tangan dan jari kaki.

Kemudian sunnah yang berikutnya,

⑨ Selalu mendahulukan anggota yang berpasangan mulai dari yang kanan. dulu. Kecuali telinga yang diusap secara bersamaan.

Dalil mendahulukan yang kanan dari yang kiri.

Dalil shahih, hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، " أَنَّهُ تَوَضَّأَ فَغَسَلَ وَجْهَهُ ، أَخَذَ غَرْفَةً مِنْ مَاءٍ فَمَضْمَضَ بِهَا وَاسْتَنْشَقَ ، ثُمَّ أَخَذَ غَرْفَةً مِنْ مَاءٍ فَجَعَلَ بِهَا هَكَذَا أَضَافَهَا إِلَى يَدِهِ الْأُخْرَى فَغَسَلَ بِهِمَا وَجْهَهُ ، ثُمَّ أَخَذَ غَرْفَةً مِنْ مَاءٍ فَغَسَلَ بِهَا يَدَهُ الْيُمْنَى ، ثُمَّ أَخَذَ غَرْفَةً مِنْ مَاءٍ فَغَسَلَ بِهَا يَدَهُ الْيُسْرَى ، ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ ، ثُمَّ أَخَذَ غَرْفَةً مِنْ مَاءٍ فَرَشَّ عَلَى رِجْلِهِ الْيُمْنَى حَتَّى غَسَلَهَا ، ثُمَّ أَخَذَ غَرْفَةً أُخْرَى فَغَسَلَ بِهَا رِجْلَهُ يَعْنِي الْيُسْرَى ، ثُمَّ قَالَ : هَكَذَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَوَضَّأُ"

Kelengkapan hadits ini akan kita lanjutkan pada halaqoh berikutnya.

بِاللَّهِ التَّوْفِيْقِ وَ الْهِدَايَةِ.
وَصَلَّى اللّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
___________________
�� Transkriptor : Ummu 'Abdirrahman
♻ Editor : Farid Abu Abdillah
�� Murojaah : Ust. Abu Ziyad Eko Haryanto M.A.

Belajar fiqih 22

�� Halaqoh 22
�� Sunnah-sunnah Wudhū' (bag 2)
�� Oleh Ust. Abu Ziyad Eko Haryanto, MA
-----------------------
بسم اللّه الرحمن الرحيم
أَلْحَمْدُ لِلّهِ وَالصَّلاَةُ وَ السَّلاَمُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ سَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

Ikhwan dan akhwat yang dimuliakan Allāh, kita lanjutkan halaqoh berikutnya (halaqoh 22), kita masih membahas sunnah-sunnahny wudhū'.

Telah kita sebutkan sunnah:
① membaca Bismillāh
② membasuh kedua telapak tangan sebelum memasukkan ke bejana
③ kumur-kumur
④ istinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung)
⑤ mengusap semua bagian kepala kita

Apa dalil dari sunnah-sunnah di atas?

Disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim bahwasanya Abdullāh Ibni Zayd radhiyallāhu 'anhu pernah ditanya tentang bagaimana wudhū' nya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam. Saat itu kemudian Abdullāh Ibni Zayd meminta 1 bejana air. Kemudian berwudhū' seperti wudhū' nya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

سأل عبد الله بن زيد عن وضوء النبي صلى الله عليه وسلم فدعا بتور من ماء فتوضأ لهم وضوء النبي صلى الله عليه وسلم فأكفأ على يده من التور فغسل يديه ثلاثا ثم أدخل يده في التور فمضمض واستنشق واستنثر ثلاث غرفات ثم أدخل يده فغسل وجهه ثلاثا ثم غسل يديه مرتين إلى المرفقين ثم أدخل يده فمسح رأسه فأقبل بهما وأدبر مرة واحدة ثم غسل رجليه إلى الكعبين

Kemudian Abdullāh Ibni Zayd menumpahkan air ke tangannya (dari bejana itu) (tangannya tidak dimasukkan ke bejana air tapi ditumpahkan) kemudian dibasuh 3x, kemudian tangan yang sudah bersih tadi dimasukkan ke dalam bejana dan mengambil air untuk berkumur-kumur, memasukkan air ke kehidung (istinsyaq) kemudian mengeluarkannya (istintsar) sebanyak 3x. Kemudian tangannya dimasukkan lagi ke bejana dan membasuh muka 3x. Kemudian membasuh tangan 3x sampai siku. Kemudian memasukkan tangannya lagi ke tempat air dan mengusap kepalanya dari depan ke belakang dan kembali dikedepankan lagi 1x. Dan (yang terakhir) membasuh kedua kakinya sampai mata kaki (3x).

Ini semua menunjukkan bahwasanya itulah wudhū' yang sempurna yang disunnahkan oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Sunnah wudhū' yang berikutnya adalah :

⑥ Mengusap kedua daun telinga menggunakan air yang baru (bukan air bekas membasuh kepala) untuk mengusap baik bagian dalam dan bagian luarnya.

Caranya:
Kedua telunjuk kita masukkan ke dalam lubang telinga, kemudian ibu jari diletakkan dibelakang telinga kemudian diputar ke depan, dilakukan 1x (sama dengan mengusap kepala 1x).
⑦ Menyela-nyela jenggot tebal kita dengan jari yang telah dibasahi air.

Disela-selakan karena agar air wudhū' sampai ke dalam kulit dagu. Kalau hanya dilewatkan saja maka tidak mengenai kulit dagu, terutama kalau jenggot kita tebal.

Namun ini sunnah, artinya kalau orang membasuh muka dan cukup bagian depan atau luarnya saja dari jenggot yang tebal sebenarnya sudah mencukupi, tetapi sunnahnya kita mensela-selai jenggota yang tebal dengan jari.

Demikian, in syā Allāh kita lanjutkan ke halaqoh berikutnya.

بِاللَّهِ التَّوْفِيْقِ وَ الْهِدَايَةِ.
وَصَلَّى اللّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
___________________
�� Transkriptor : Ummu 'Abdirrahman
♻ Editor : Dr. Farid Fadhillah Abu Abdillah
�� Murojaah : Ust. Abu Ziyad Eko Haryanto M.A.

Monday, 23 March 2015

Belajar fiqih 21

�� Halaqoh 21
�� Sunnah-sunnah Wudhū' (bag 1)
�� Oleh Ust. Abu Ziyad Eko Haryanto, MA
-----------------------
بسم اللّه الرحمن الرحيم
الحمد لله و كفى والصلاة والسلام النبي الرحمة، نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين

Ikhwan dan akhwat yang dimuliakan Allāh, pada kesempatan kali ini (halaqoh ke-21) kita akan membahas masalah baru yaitu tentang sunnah-sunnahnya wudhū'.

Muallif berkata:
Pasal tentang sunnah-sunnahnya wudhū' ada 10 macam:
① Tasmiyyah/membaca basmalah (Bismillāh atau Bismillāhirrahmānirrahīm)

Dalil tentang sunnahnya membaca basmalah ketika hendak wudhū' adalah :
Hadits yang diriwayatkan oleh Imam An-Nasāi dalam sanad yang bagus.

Dari Anas radhiyallāhu 'anhu berkata; bahwasanya dia menceritakan sebagian shahabat Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mencari air wudhū' untuk berwudhū', namun mereka tidak mendapatinya. Kemudian Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bertanya: "Apakah ada salah seorang diantara kalian yang memiliki air?". Kemudian didatangkanlah kepada Beliau 1 bejana (tempat) air. Kemudian Beliau letakkan tangannya yang mulia didalam air tersebut dan Beliau bersabda: "Berwudhū'lah kalian wahai para shahabatku dengan mengucapakan 'Bismillāh'. Kemudian aku (Anas bin Malik) melihat air itu memancar dari sela-sela jari-jari Beliau sehingga semua shahabat kebagian wudhū' yang jumlah mereka mencapai 70 orang."

Hadits ini merupakan mu'jizat Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam, membuktikan tentang kenabian Beliau, dimana salah satu bentuk mu'jizat itu adalah keluarnya air dari sela-sela jari Beliau dengan jumlah yang sangat banyak sehingga para shahabat bisa berwudhū' semuanya.

Sabda beliau yang menyebutkan "Berwudhū' lah kalian dengan membaca 'Bismillāh'" ini menunjukkan bahwa membaca Bismillāh hukumnya sunnah.

② Membasuh kedua telapak tangan sebelum memasukkannya ke dalam bejana.

Ini kalau wudhū' nya tidak menggunakan kran air/pancuran maka disunnahkan sebelum kita memasukkan tangan kita kedalam bejana maka harus kita cuci dahulu, karena barangkali didalam tangan kita ada najis atah kotoran yang akan mengotori air yang akan kita gunakan untuk berwudhū'.

③ Berkumur-kumur (madhmadhah) dan memasukkan air ke hidung (istinsyāq)

· madhmadhah: memasukkan air ke dalam mulut kemudian digerak-gerakkan dan lebih sempurnanya dibuang dengan kuat supaya hilang kotoran yang ada dalam mulut.
· istinsyaq: memasukkan air ke hidung kemudian dihirup sedikit sampai kepangkal hidung kemudian dikeluarkan kembali. Ini juga fungsinya untuk membersihkan rongga hidung dari kotoran-kotoran yang mungkin menempel di dalamnya.

Sunnah madhmadhah dan istinsyaq ini. diambil dengan 1 tangan dan sekaligus. Jadi mengambil air dengan telapak tangan kita kemudian kita kumur-kumur dan sekalian hirup kehidung kemudian dikeluarkan dan dilakukan sebanyak 3x.

④ Mengusap seluruh bagian kepala

Yang wajib adalah mengusap sebagian saja (tapi ada yang mengatakan mayoritas kepala adalah yang fardhu) namun kalau diusap semuanya maka hukumnya sunnah.

Dan kalau ini dilakukan tentunya akan menjadi wudhū' yang sempurna.

In syā Allāh nanti akan kita lanjutkan tentang apa dalil sunnah ini pada halaqoh selanjutnya.

بِاللَّهِ التَّوْفِيْقِ وَ الْهِدَايَةِ.
وَصَلَّى اللّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
___________________
�� Transkriptor : Ummu 'Abdirrahman
♻ Editor :  Farid Fadhillah Abu Abdillah
�� Murojaah : Ust. Abu Ziyad Eko Haryanto M.A.

Belajar fiqih 20

➖➖➖➖➖
�� Halaqoh 20
�� Furūdhul wudhū' (bag 4)
�� Oleh Ust. Abu Ziyad Eko Haryanto, MA
-----------------------
بسم اللّه الرحمن الرحيم
الحمد لله و كفى والصلاة والسلام النبي المصطفى، نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين

Ikhwan dan akhwat yang dimuliakan Allāh, pada kesempatan kali ini kita memasuki halaqoh yang ke-20 dari syarh matan Abu Syujā'. Pada kesempatan sebelumnya kita telah membahas furūdhul wudhū' yang 3 dan sudah menginjak yang 4 yaitu membasuh sebagian kepala (مسح بعد الرأس), memang khilaf dikalangan ulama.

Ada yang mengatakan bahwasanya فمسح برأسكم (Hendaklah kalian mengusap kepala kalian), huruf ب disini li at-tab'īdh (untuk menyatakan makna sebagian) jadi cukup sebagian kepala yang diusap. Inilah yang dijadikan dalil bahwasanya kepala itu tidak wajib diusap semuanya.

Demikian juga hadits yang disebutkan bahwasanya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam berwudhū' ketika menggunakan imamah dengan mengusap bagian dahi Beliau kemudian meneruskannya ke imamah.

Tetapi disana ada pendapat lain yaitu bahwasanya fardhu (wajib) nya wudhū' adalah mengusap mayoritas kepala, tidak hanya bagian depan atau sebagian saja.

Dalil :
Hadits dari Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam Sunannya dalam bab :

باب ما جاء في مسح الرأس أنه يبدأ بمقدم الرأس إلى مؤخره

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam memulai membasuh kepala dari depannya sampai ke bagian belakangnya (artinya mayoritas kepala diusap)

Haditsnya:

عن عبد الله بن زيد أن رسول الله صلى الله عليه وسلم مسح رأسه بيديه فأقبل بهما وأدبر بدأ بمقدم رأسه ثم ذهب بهما إلى قفاه ثم ردهما حتى رجع إلى المكان الذي بدأ منه ثم غسل رجليه

Dari 'Abdillah Ibn Zayd, bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengusap kepala Beliau dengan ke-2 tangannya kemudian mengusap ke belakang dan kemudian ke depan lagi, dimulai dari bagian depan kepala kemudian sampai ke tengkuk kemudian balik lagi ke depan (1 kali usapan), kemudian kembali ke tempat dimana Beliau memulai (yaitu bagian depan kepala), setelah itu membasuh ke-2 kakinya.

قال أبو عيسى وفي الباب عن معاوية والمقدام بن معدي كرب وعائشة قال أبو عيسى حديث عبد الله بن زيد أصح شيء في هذا الباب وأحسن وبه يقول الشافعي وأحمد وإسحق

Jadi yang shahih dari wudhū' adalah ketika membasuh kepala, yang benar adalah membasuh mayoritas kepala dengan 1 kali ucapan dimulai depan sampai ke tengkuk, kemudian kembali lagi ke bagian depan.

⑤ Fardhu yang ke-5 adalah membasuh ke-2 kaki sampai ke mata kaki.
Tentunya ketika membasuh kaki maka sela-sela jari juga harus ikut dibasuh karena termasuk bagian yang harus terkena air wudhū', dan tidak boleh meninggalkan bagian tersebut tanpa terkena air. Karena Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengancam orang yang wudhū' nya tidak sempurna.

Beliau bersabda:

ويل للأعقاب من النار

"Celaka bagi tumit-tumit yang tidak terkena air wudhū' (nanti akan terkena oleh) api neraka."

Oleh karena itu saat wudhū' harus diperhatikan baik-baik, apakah semua aaggota wudhū' sudah basah atau belum. Jika belum, maka tidak mengapa diulangi karena merupakan fardhu dalam wudhū'.

Membasuh ke-2 kaki sampai 2 mata kaki (al-ka'bayn), mata kaki adalah 2 tulang yang muncul di kanan dan kiri kaki, jika lebih dari itu maka sunnah saja.

⑥ Fardhu yang ke-6 yaitu, semua itu harus dilakukan secara tertib/urut, tidak boleh dibalik (misal membasuh kaki dahulu baru muka dll) karena semua hadits yang menerangkan tentang sifat wudhū' Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam itu menyebutkan urutan.

Demikian. Mudah-mudahan kita bisa memahaminya dan mempraktekannya dalam kehidupan sehari-hari.

Terima kasih.

بِاللَّهِ التَّوْفِيْقِ وَ الْهِدَايَةِ.
وَصَلَّى اللّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
___________________
�� Transkriptor : Ummu 'Abdirrahman
♻ Editor : Dr. Farid Fadhillah Abu Abdillah
�� Murojaah : Ust. Abu Ziyad Eko Haryanto M.A.